Merawat Tradisi Ketupat Warisan Leluhur Jaton

Rasyid Patamani yang semenjak tahun 2015 terus melestarikan budaya ketupat dengan menggelar open house di kediamannya.
BeritaA1.id -

Festival Ketupat bukan sekadar pesta makanan, tapi juga simbol kebersamaan, persaudaraan, dan silaturahmi antarwarga. Ketupat sendiri melambangkan kesucian dan kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan, yang dilaksanakan oleh etnis Jawa Tondano (Jaton).

Tradisi ini dilaksanakan oleh etnis Jawa Tondano yang adi Gorontalo secara turun temurun, Bahkan kini tradisi dan budaya ketupat sudah menyebar keberbagai wilayah seperti di Kabupaten Gorontalo, Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango.

Menurut Rasyid Patamani (40) warga Desa Kaliyoso Kecamatan Dungaliyo menjelaskan, dirinya semenjak tahun 2015. “Sampai saat ini saya masih terus open hous pas momen ketupat,” jelasnya. Rasyid menceritakan dikediamannya, mulai malam ketupat hingga hari ketupat rutin menyiapkan makan bagi para tamu yang berkunjung.

“Awalmya kami, menyiapkan nasi bulu dan dodol untuk dibagikan kepada tamu sebagai oleh-oleh. Namun beberapa tahun ini tinggal dodol saja,” terangnya. Hal ini disebabkan oleh proses pembuatan nasi bulu yang lumayan rumit.

Nasi Bulu atau dalam bahasa Gorontalo Tiloto’o, adalah salah satu sajian makanan yang kerap kita temui saat pelaksaan tradisi ketupat di momen Idul Fitri dan menjadi oleh-oleh bagi tamu yang datang ke rumah etnis Jawa Tondano di Gorontalo.

Bagi suami Sulastri Umar, merawat tradisi ketupat adalah merupakan warisan leluhur yang wajib dipertahankan. “Saya adalah keturunan Gorontalo-Buol, sementara istri saya keturunan Jaton – Gorontalo, dari sinilah alur kami menjaga warisan budaya leluhur ini,” tutur Rasyid.

Lantas berapa dana yang harus disiapkan untuk menyiapkan dodol dan makanan yang disajikan kepada para tamu tersebut. Rasyid menceritakan, dirinya setiap tahun menyiapkan dana paling sedikit Rp. 10 juta.

“Untuk dodol sendiri biasanya kami siapkan 30 kg, dan itu bisa dapat 700 bungkus ditambah 300 bungkhus yang disajikan dalam kemasan mika plastik kecil,” terangnya.

“Adalah sebuah kepuasan batin tersendiri bagi kami dapat menyajikan makanan dan juga dodol kepada tamu yang datang, selain ini adalah bentuk ungkapan syukur kami masih diberi kesempatan menjalani ibadah puasa Ramadhan selama 1 bulan penuh,” tandasnya.

Tradisi ini bagi keluarga mantan Ketua KPU Kabupaten Gorontalo, akan terus dipertahankan oleh anak cucunya. “Siapa lagi yang menjaga serta merawat budaya ini kalau bukan anak cucu kami dikemudian hari,” timpalnya. (XXN)